Sabtu, 17 Mei 2014

AYAT-AYAT AL-QUR’AN DALAM KONSEP FISIKA/ASTRONOMI

Dalam dasawarsa-dasawarsa pertama abad ini para ahli fisika mempunyai konsepsi,bahwa sesuai dengan hasil observasi mereka ,jagad raya ini tidak terbatas dan besarnya tak terhingga ,sebab kalau ia terbatas ,bintang dan galaksi yang ada di tepi akan merasakan gaya tarik gravitasi dari satu sisi saja,yaitu ke arah pusat alam semesta, sehingga lama -kelamaan benda-benda langit itu akan mengumpul di sekitar pusat tersebut.
Adapun reaksi yang di alami ,kimiawi atau fisis, massanya tak pernah hilang atau paling akan berubah menjadi energi yang setara. Dengan konsepsi bahwa alam itu qodim dan kekal ,astrofisika tidak mengakui adanya penciptaan alam.sudah barang tentu gagasan semacam itu tidak sesuai dengan ajaran islam  dan jualah yang baka.           Sebagaimana  kita  ketahui,pandangan  ini  berasal  dari  newtron,yang  melontarkan konsepsinya sekitar akhir abad ke XVII,namun kekekalan massa di tegaskan oleh lavoiser sekitar akhir abad ke-XVIII,dan di perluas oleh Einstein dalam abad ini menjadi kekekalan massa dan energi atau secara singkat kekekalan materi.dalam dasawarsa kedua abad ke-XX ini saja Einstein masih percaya bahwa pandangan klasik itu benar.namun Friedman mengungkapkan bahwa model ini tidak melukiskan alam yang statis,yang menjadi konsensus para astronom-kosmolog,melainkan jagad raya yang dinamis.model ini dikenal sebagai model Friedman.
Al-qur’an yang ayat-ayatnya diturunkan sekitar 14 abad yang lalu mengandung uraian secara  garis besar tentang penciptaan alam semesta itu,namun umat yang awam tidak mengetahui maknanya secara jelas ,sebab rincian dari scenario kejadian itu terdapat dalam al-kaun sebagai  ayatullah yang harus “dibaca”,dan umat tidak mampu membacanya karena fisika,dan sains pada  umumnya, telah dilepaskanya enam abad yang lalu.tidak lagi umat secara umum dapat dimasukkan dalam golongan yang kita temukan dalam ayat 190 surat ALI’Imran,yaitu kategori “ulul albab”.
ن ا رمع ل ا         ببل لا ا لا و لا تي لا ر اهنل ا و ليل ا فاتخ ا و ض ر لاا و ت ومسل ا قلخ يف نا  Artinya:    “Sesungguhnya dalam pencipta langit dan bumi,serta silih bergantinya malam dan  siang,terhadap tanda kekuasaan allah bagi para ulul albab”
A.    Teori Big Bang dalan Al-Qur’an
Bumi Pernah Berpdu dengan Langit
Proses kelahiran alam semesta telah dimulai sejak sekitar 18 miliyar tahun yang lalu. Sebelum terjadinya ledakan kosmis yang sangat dasyat dari sebuh titik singularitas atau dikenal dengan peristiwa big bang.
Pristiwa big bang telah dikemukakan oleh George Lemaitre dan Stephen Hawking pada tahun 198-an yang menjelaskan kejadian awal alam semesta. Teori tersebut menjelaskan bahwa alam semesta awalnya terdiri dari sebuah titik yang sangat rapat, padat dan panas, yang disebut titik singularitas. Sebuah titik yang tidak terdefinisi. Dari titik inilh sebuah ledakan maha dasyat (big bang) terjadi dan membentuk atom-atom hydrogen (H), helium (He), proton, electron, dan neutron dalam hitungan menit. Sejak terjadinya ledakan itu bintang-bintang, proto-proto galaksi dn galaksi mulai terbentuk. Selanjutnya alam semesta mengembang dan berangsur dingin.
            Allah telah menjelaskan kejadian tersebut dalam Al-Qur’an
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Artinya : "Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS Al-Anbiya' : 30)
Ternyata Al-qur’an telah menyajkan informasi yang sangat akurat bahwa pada awalnya langit dan bumi itu memang perpadu dalam satu titik singularitas sebagai asal segala yang ada di jagat raya.
B.     Teori Hubble dalam Al-Qur’an
Alam Semesta Mengembang
Dalam      Al  Qur'an,    yang    diturunkan     14   abad   silam    di  saat   ilmu astronomi masih terbelakang,      mengembangnya          alam     semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." (Al Qur'an, 51:47)
Kata "langit", sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di banyak tempat   dalam Al-Qur'an dengan makna luar angkasa dan alam semesta.Di sini sekali lagi, kata tersebut   digunakan dengan arti ini. Dengan kata lain, dalam AlQur'an dikatakan bahwa alam semesta "mengalami perluasan atau mengembang". Dan inilah yangkesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.
Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa   permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi   modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus "mengembang".
Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa    bergerak dan mengembang. Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara Fakta ini dibuktikan  juga dengan menggunakan data pengamatan terus-menerus pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling   menjauhi.   Sebuah   alam peristiwa mengembangnya semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain,  berarti   bahwa    alam    semesta     tersebut    terus-menerus "mengembang" Pengamatan yang dilakukan di   tahun-tahun  berikutnya memperkokoh fakta   bahwa    alam  semesta terus   mengembang. Kenyataan ini diterangkan dalam Al Qur'an pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Ini dikarenakan Al-Qur'an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta.
Soejoeti (1998:258) menyatakan bahwa Jagat Raya merupakan suatu pencerminan dari sifat Allah SWT yang tidak terbatas, dan bahwa Jagat Raya ini masih dalam keadaan yang mengembang. Yahya (2008:4) menambahkan fakta mengenai bukti lama semesta yang mengembang. Pada tahun 1929, Edwin Hubble  melakukan pengamatan terhadap alam semesta dengan menggunakan teleskop raksasanya. Hubble secara teoritis menghitung bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang, dengan galaksi yang saling menjauh satu sama lain.
Hal ini dapat diketahui melalui spectrum warna. Dalam ilmu fisika jarak pada bintang dapat diketahui dengan mengetahui warna bintang yang diamati. Ahli Fisika menyatakan bahwa bintang yang lebih dekat dari tempat pengamatan mempunyai warna lebih ungu, sedangkan cahaya yang menjauhi titik pengamatan akan semakin merah. Dalam pengamatannya Hubble mendapatkan hasil pengamatan bahwa kecenderungan bintang untuk berubah kearah lebih merah. Singkatnya bintang-bintang bergerak menjauh dan semakin jauh tiap saat. Bintang dan galaksi tidak hanya bergerak menjauhi kita, tetapi galaksi bergerak menjauh satu sama lain.
Seperti yang telah dijelaskan dalam Q.S. Al-Ambiya’,21:104 bahwa alam semesta ini awalnya merupakan satu titik materi yang kemudian meledak dengan dentuman yang dasyat. Setelah meledak pecahan materi ini terus mengembang dan menjauh dengan kecepatan yang sangat tinggi. Hahya (2008:5) para ahli menyatakan bahwa ketika masa jagat raya ini mencapai tingkat yang memadai, pengembangan ini akan berakhir dan mengakibatkan alam semesta runtuh dengan sendirinya.
Berdasarkan pengamatan para ahli, alam semesta mengembang dengan laju percepatan yang sangat mengherankan dan menabjubkan setelah proses pembentukannya. Salah satu carauntuk mengerti konsep pengembangan alam semester. Adalah dengan menggambar titik-titik sebagai perumpamaan galaksi-galaksi di atas sebuah balon. Ketika balon tersebut ditiup setiap titik kan bergerak saling menjauh.
Bila seseorang melihat alam semesta dari sebuah galaksi, semua galaksi akan terlihat saling menjauh. Galaksi yang jauh akan terlihat semakin mejauh satu sama lain lebih cepat dibandingkan dengan galaksi yang lebih dekat. Itulah penjelasan hukum Hubble.
Beberapa ahli astronomi percaya bahwa perluasan atau pengembangan alam semesta akan terus berlanjut, sedangkan beberapa ahli yang lainnya meyakini suatu saat nanti alam semesta akan mulai mengkerut. Dalam l-Qur’an Allah memaparkan
                  
Artinya:
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuatan dan Kamilah yang meluaskannya.”(Q.S Adz-Dzariyat 51:47)
Proses hancurnya jagat raya ini di dalam ilmu pengetahuan dikenal dengan big crunch (keruntuhan total). Peristiwa ini yang menyebabkan tamaytnya riwayat segala jenis kehidupan yang dikenal. Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Ambiya’ ayat 104 dituliskan bahwa langit akan kembali digulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Allah SWT telah memulai penciptaannya pertama, begitulah Allah SWT akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Allah SWT tepati.
Namun ada satu hal yang masih menjadi pertanyaan. Seperti yang dijelaskan di dalam ayat di atas, bahwa bumi dan langit akan kembali digulung seperti awal penciptaannya. Jika kita menggap bahwa jagat raya ini berasal dari sebuah materi yang meledak, maka kita tidak dapat membayangkan bahwa jagat raya ini berada pada satu bidang datar. Pada hakikatnya jika sebuah materi terus mengembang dan bergerak saling menjauh dan berada pada satu bidang datar, maka penggulungan jagar raya menjadi satu yang padu kembali merupakan hal yang mustahil menurut pemikiran saat ini. Jadi akan sangat mungkin jika alam semesta ini berbentuk melengkung, sehingga pada satu titik akan saling bertabtakan dan menjadi satu materi kenbali.
Menurut teori big crunch alam semesta akan kembali menjadi seperti awal penciptaanya dengan kerapatan yang sangat tinggi. Pada akhir alam semesta, jagat raya ini akan semakin panas dan mengecil hingga ukuran yang takterhingga. Teori ilmiah tersebut sejalan dengan penjelasan yang ada di dalam ayat Al-Qur’an.
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ (١٠٤)
(Yaitu) pada hari Kami menggulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati;sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. (QS. 21:104)
C.    Langit dan Bumi Tercipta dalam 6 Masa
Allah SWT dalam Al-Qur’an tidak pernah mengatakan kalimat: ”kami ciptakan bumi dan langit” tapi Allah mengucapkan “Kami ciptakan langit dan bumi”
Urutan penyebutan kata-kata tersebut menunjukkan urutan penciptaan alam semesta. Kenyataannya memang langit tercipta lebih dahulu, baru bumi tercipta yang merupakan bagian dari triliunan planet yang tersebar di langit.
            Dalam ayat di bawah ini Allah menjelaskan tahap atau masa penciptaan langit dan bumi.
اللَّهُالَّذِيخَلَقَال سَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَوَمَابَيْنَهُمَافِي سِتَّةِ أَيَّامٍثُمَّاسْتَوَىعَلَىالْعَرْشِ مَالَكُم مِّندُونِهِ مِنوَلِيٍّوَلَا شَفِيعٍأَفَلَاتَتَذَكَّرُونَ
Artinya:
 Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam  enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada -Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu  tidak memperhatikan?
(QS. 32:4)


قُلْأَئِنَّكُمْلَتَكْفُرُونَبِالَّذِيخَلَقَالْأَرْضَفِييَوْمَيْنِوَتَجْعَلُونَلَهُأَندَادًاذَلِكَرَبُّ الْعَالَمِينَ

          Katakanlah: `Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam
          dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya (Yang bersifat) demikian itulah Rabb
        semesta alam`. (QS. 41:9)
      
Dengan menggabungkan informasi dari dua ayat tersebut dan data sains tentang umur bumi, kita dapat memperkirakan berapa umur langir dengan menggunakan matematika sederhana berikut.
Analogi:
Allah SWT menciptakan langit dan bumi dalam enam masa (Q.S. As-sajdah:4) serta menciptakan bumi dalam dua masa (Q.S. Fishilat:9). Berdasarkan umur meteorit tertua yang ditemuka di bumi, para geologi menyatakan bahwa umur bumi adalah 4,56x109 tahun.
Perbandingan umur bumi dan langit adalah 2:6 = 1:3. Umur langit = 3x 4,56x109 tahun=13,68x109 tahun.
Versi sains menyatakan ,menyatakan bahwa umur alam semesta sejak peristiwa big bang adalah 13,7x109 tahun. Terdapat perbedaan selisih 20 jut tahun antara perhitungan versi al-qur’an dan sains, namun perbedaan ini dapat di toleransi dalam perhitungan kosmologi. Ternyata firman-firmn Allah menjelaskan umur langit dan bumi dengan cukup akurat..
D.    Daratan dan Lautan.
Allah SWT menyebut kata “daratan” al-barr di dalam Al-Qur’an sebanyak6 kali.                     Dan kata “lautan” al-bahr sebanyk 19 kali. Dengan perbandingan didapat perbandingannya adalah 6:19 atau 1:3,16. Penyebutan tersebut menyebutkn perbandingan kurang lebih 24%:76% antara luas daratan dan lautan di muka bumi ini.
Dalam Al-Qur’an selalu disebut kata daratan terlebih duhulu sebelum kata lautan. Seperti pada ayat ini
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (٥٩)
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. 6:59)
Urutan penyebutan daratan dan lautan menunjukan bahwa daratan lebih dahulu diciptakan daripada lautan. Dan ternyata perbabdingan jumlah penyebutan kata daratan dan lautan dalam al-qur’an hampir sama dengan perbandingan luas daratan dan lautan menurut


E. Mencoba memahami dengan kosmologi
Untuk melakukan ini para ilmuwan berpegang pada fakta-fakta dan sunnatullah yang telah  mereka temukan yang mengendalikan tingkah laku alam semesta,dan kemudian mulai mereka-reka  jawaban  itu  sehingga  mereka  dapat  menerangkan  gejala  yang  teropservasi  dan  dapat  mengakomodasi hasil pengamatan di kemudian hari.mereka mulai dari persamaan matematik yang
melukiskan ruang alam yang bergrafitasi karena materi yang ada di dalamnya.persamaan einstein  yang distribusi materinya rata dan serba sama ke semua arah mempunyai bentuk yang sederhana.

(dR/dt)2=(8 π /3)Kg pR2-kc2+( /3)R2 (12.1)

            Dalam persamaan ini k adalah konstante gravitasi yang telah kita kemukakan dalam paragraf  5.2,k parameter kelengkungan ruang alam dan A konstante kosmologis,sedangkan R adalah jari-jari jagad raya.untuk menerangkan terjadinya big bag yang keluar dari singularitas dan berekspansinya alam semesta para fisikwan mengatakan  bahwa dalam ketiadaan,tanpa ruang tanpa materi ,terjadi suatu goncangan vakum selama saat yang sangt pendek sesuai dengan sunntullah yang di temukan Heisenberg  yaitu ΔEΔt  ≈ h.
            Besar energi  yang dapat muncul itu bergantung pada pendeknya waktu yang bersangkutan.
Apabila energi yang dapat muncul itu bergantung pada pendeknya waktu yang bersangkutan.apabila
energi itu besar sekali maka waktu itu sangat pendek sekali,terkandung dalam volume singularitas
fisis yang sangat pendek sekali,terkandung dalam volume singularitas fisis yang sangat kecil itu R≈ O sehingga dalam ruas kanan pers. (12.1) suku terakhir sangat kecil tetapi suku pertama sangat besar,karena kandungan enerssgy ρR3 konstan yang berarti  ρ≈1/R3 ,sehingga suku kecil tetapi suku kedua tidak berarti.dengan demikian maka pres.(12.1) tereduksi menjadi
(dR/dt)2 = (8π/3)Kg /R atau (dR/dt) =√ (β/R)

Dengan = (8π/3)kg. Kalau kita kalikan pers. (12.2a) dengan dt dan √R, maka kita peroleh

√R dR =√β dt 
F. Orbit/Edar
            Tatkala merujuk pada matahari dan bulan di dalam Al-Qur`an, bahwa semua bergerak pada masing-masing garis orbit atau edar tertentu.
“Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” (QS. Al-Anbiyaa [21] ayat 33)
Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam tetapi bergerak pada garis edar tertentu.
“Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” (QS. Yaasiin [36] ayat 38)
            Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al-Qur`an ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomi di zaman kita sekarang. Menurut perhitungan para ahli astronomi bahwa Matahari bergerak dengan kecepatan luarbiasa yang mencapai 720.000 Km/jam kearah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solarafeks. Ini berarti Matahari bergerak sejauh ± 17.280.000 Km/hari. Bersama Matahari, semua planet dan satelit yang berada dalam sistem gravitasi Matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya semua bintang di alam semesta berada dalam satu gerakan serupa yang terencana.
            Keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti ini, dinyatakan dalam Al-Qur`an sebagai berikut:
“Demi langit yang mempunyai jalan-jalan[2],” (QS. Adz-Dzaariyaat [51] ayat 7)
[2] Yang dimaksud adalah orbit bintang-bintang dan planet-planet.
Terdapat ± 200 milyar Galaxi di alam semesta ini, dan masing-masingnya terdiri hampir dari 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet dan sebagian besar planet-planet ini memiliki bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun masing-masing seolah berenangan sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lainnya. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama garis edar yang ditetapkan baginya.
Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaxi-galaxi pun bergerak dengan kecepatan yang luarbiasa dalam satu garis edar yang terhitung dengan penuh rencana dan teliti. Selama pergerakan ini, tak satupun benda angkasa ini memotong lintasan yang lain atau bertabrakan dengan yang lainnya. Bahkan telah teramati bahwa sejumlah Galaxi berpapasan satu dengan yang lainnya tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.
Dapat dipastikan bahwa pada saat Al-Qur`an diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop masa kini atau teknologi canggih untuk mengamati luar angkasa yang berjarak jutaan kilometer. Tidak pula pengetahuan fisika maupun astronomi modern. Karenanya, saat itu tidaklah mungkin mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa dipenuhi oleh lintasan dan garis edar sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat tersebut diatas. Akan tetapi hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita di dalam Al-Qur`an yang diturunkan sejak saat itu.
                       


PEMBAGIAN KELOMPOK PRAKLAP FISIKA LINGKUNGAN (Tanjung Bara) DAN ASTRONOMI (Pulau Bosowa) Angkatan 2011 UIN ALauddin Makassar


Kelompok  I
1.        Anas Irwan
2.        Cici Anitasari
3.        Dia Fajarwati N.
4.        Haslina Hamka
5.        Retnowati. J
6.        Susiana
7.        Yamun
8.        Isna arfina
9.        Miratul barizah
10.    Muh. Faisal
11.    Muh. Hermadi
Kelompok  II
1.        Agus Sutyono
2.        Fardiana Jamhal
3.        Hasnidar
4.        Endang Kusmiati
5.        Sri hasnawati
6.        Tika listiana
7.        Hijrah
8.        Sutriadi
9.        N a r d i
10.    Ika andriani
11.    Muh. Yusuf bahar
Kelompok III
1.    Andi Ilham Badawi
2.    Ambotaang
3.    Alifah Nurrochmah
4.     Nurmalasari. A
5.    selvianriani
6.    susianti p.  Wulandari
7.    Marfuatun
8.        Mutmainna anhar
9.        Nurhadi k. Hasan
10.    Jumriani
Kelompok  IV
1.        Ahsan Wahyudin
2.        Fitriani
3.        Asriani
4.        Hani Rahmadianti
5.        Nurul Musfirah
6.        Suhardiana
7.        Ridha Mustakim
8.        Kasmawati
9.        Kartini
10.    Muh. Tison
11.    Mushaddiq
Kelompok V
1.        Abdurrahman
2.        Azrar mubarak
3.        Devi Dina Mardiana
4.        Rahmawati
5.        Rika rahim
6.        Risnayanti
7.        Sutrisno
8.        Mawarni wahab
9.        Jelly mawana
10.    Muh. Imran
11.    Trisnawati

Kelompok VI
1.        Andi ikhfan ikhtiar
2.        Gigih Adrian Said
3.        Ayu Lestari
4.        Riasari Kasman
5.        Ulviana safitri
6.        Ulpi anriani
7.        Syahril gallaran
8.        Musfira
9.        Kasliana karim
10.    Nurlailatul hikmah
11.    Ibrahim

Kelompok VII
1.        Fadly
2.        Ayu Megawati
3.        Ayu Jumrah
4.        Erni R. Manara
5.        Sumiati
6.        Syamsul hidayat
7.        Taufikuddin Alfansuri
8.        Helfy arnita
9.        Hijrana
10.    Muh. Nur akly

Kelompok VIII
1.        Ammase s
2.         Fahri Anshari
3.        Aliyatarrafi’ah Burhan
4.        Anniswati Nurul. I
5.        Riska
6.        Warni
7.        Jasman
8.        Muh. Amin
9.        Hasnita said
10.    Novi andriani
11.    Sap’ari