Dalam dasawarsa-dasawarsa pertama
abad ini para ahli fisika mempunyai konsepsi,bahwa sesuai dengan hasil observasi mereka ,jagad raya ini tidak terbatas dan
besarnya tak terhingga ,sebab kalau
ia terbatas ,bintang dan galaksi yang ada di tepi akan merasakan gaya tarik
gravitasi dari satu sisi saja,yaitu ke
arah pusat alam semesta, sehingga lama -kelamaan benda-benda langit itu akan mengumpul di sekitar pusat tersebut.
Adapun reaksi
yang di alami ,kimiawi atau fisis, massanya tak pernah hilang atau paling akan berubah menjadi energi yang setara. Dengan konsepsi bahwa alam itu
qodim dan kekal ,astrofisika tidak mengakui
adanya penciptaan alam.sudah barang tentu gagasan semacam itu tidak sesuai dengan ajaran islam dan jualah yang baka. Sebagaimana kita
ketahui,pandangan ini berasal
dari newtron,yang melontarkan konsepsinya sekitar akhir abad ke XVII,namun kekekalan massa di tegaskan
oleh lavoiser sekitar akhir abad
ke-XVIII,dan di perluas oleh Einstein dalam abad ini menjadi kekekalan massa
dan energi atau secara singkat
kekekalan materi.dalam dasawarsa kedua abad ke-XX ini saja Einstein masih percaya bahwa pandangan klasik itu benar.namun
Friedman mengungkapkan bahwa model ini tidak melukiskan alam yang statis,yang menjadi konsensus para
astronom-kosmolog,melainkan jagad raya yang
dinamis.model ini dikenal sebagai model Friedman.
Al-qur’an yang
ayat-ayatnya diturunkan sekitar 14 abad yang lalu mengandung uraian secara garis besar
tentang penciptaan alam semesta itu,namun umat yang awam tidak mengetahui maknanya secara jelas ,sebab rincian dari
scenario kejadian itu terdapat dalam al-kaun sebagai ayatullah yang
harus “dibaca”,dan umat tidak mampu membacanya karena fisika,dan sains
pada umumnya, telah dilepaskanya enam abad yang
lalu.tidak lagi umat secara umum dapat dimasukkan dalam golongan yang kita temukan dalam ayat
190 surat ALI’Imran,yaitu kategori “ulul albab”.
ن ا رمع ل ا ببل لا ا لا و لا تي لا ر اهنل ا و ليل ا فاتخ ا و ض ر لاا و ت ومسل ا قلخ يف نا Artinya: “Sesungguhnya dalam pencipta langit dan bumi,serta silih
bergantinya malam dan siang,terhadap tanda kekuasaan allah bagi
para ulul albab”
A.
Teori Big Bang dalan Al-Qur’an
Bumi Pernah Berpdu dengan Langit
Proses kelahiran alam semesta telah dimulai sejak
sekitar 18 miliyar tahun yang lalu. Sebelum terjadinya ledakan kosmis yang
sangat dasyat dari sebuh titik singularitas atau dikenal dengan peristiwa big
bang.
Pristiwa big bang telah dikemukakan oleh George
Lemaitre dan Stephen Hawking pada tahun 198-an yang menjelaskan kejadian awal
alam semesta. Teori tersebut menjelaskan bahwa alam semesta awalnya terdiri
dari sebuah titik yang sangat rapat, padat dan panas, yang disebut titik
singularitas. Sebuah titik yang tidak terdefinisi. Dari titik inilh sebuah
ledakan maha dasyat (big bang) terjadi dan membentuk atom-atom hydrogen (H),
helium (He), proton, electron, dan neutron dalam hitungan menit. Sejak
terjadinya ledakan itu bintang-bintang, proto-proto galaksi dn galaksi mulai
terbentuk. Selanjutnya alam semesta mengembang dan berangsur dingin.
Allah
telah menjelaskan kejadian tersebut dalam Al-Qur’an
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Artinya : "Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (QS Al-Anbiya' : 30)
Ternyata Al-qur’an telah
menyajkan informasi yang sangat akurat bahwa pada awalnya langit dan bumi itu
memang perpadu dalam satu titik singularitas sebagai asal segala yang ada di
jagat raya.
B. Teori Hubble dalam Al-Qur’an
Alam Semesta Mengembang
Dalam Al
Qur'an, yang diturunkan 14
abad silam di
saat ilmu astronomi masih
terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut
ini:
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
"Dan
langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami
benar-benar meluaskannya." (Al Qur'an, 51:47)
Kata "langit",
sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di banyak tempat dalam Al-Qur'an dengan makna luar angkasa
dan alam semesta.Di sini sekali lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan kata lain,
dalam AlQur'an dikatakan bahwa alam semesta "mengalami perluasan atau mengembang".
Dan inilah yangkesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.
Hingga awal abad ke-20,
satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah
bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan,
dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta
sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus "mengembang".
Pada awal abad ke-20,
fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George
Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta
senantiasa bergerak dan mengembang.
Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara Fakta
ini dibuktikan juga dengan menggunakan
data pengamatan terus-menerus pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan
teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa
bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi.
Sebuah alam peristiwa
mengembangnya semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu
sama lain, berarti bahwa
alam semesta tersebut
terus-menerus "mengembang" Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun
berikutnya memperkokoh fakta
bahwa alam semesta terus mengembang. Kenyataan ini diterangkan dalam
Al Qur'an pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Ini dikarenakan Al-Qur'an
adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta.
Soejoeti (1998:258) menyatakan bahwa
Jagat Raya merupakan suatu pencerminan dari sifat Allah SWT yang tidak
terbatas, dan bahwa Jagat Raya ini masih dalam keadaan yang mengembang. Yahya
(2008:4) menambahkan fakta mengenai bukti lama semesta yang mengembang. Pada
tahun 1929, Edwin Hubble melakukan
pengamatan terhadap alam semesta dengan menggunakan teleskop raksasanya. Hubble
secara teoritis menghitung bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan
mengembang, dengan galaksi yang saling menjauh satu sama lain.
Hal ini dapat diketahui melalui spectrum
warna. Dalam ilmu fisika jarak pada bintang dapat diketahui dengan mengetahui
warna bintang yang diamati. Ahli Fisika menyatakan bahwa bintang yang lebih
dekat dari tempat pengamatan mempunyai warna lebih ungu, sedangkan cahaya yang
menjauhi titik pengamatan akan semakin merah. Dalam pengamatannya Hubble
mendapatkan hasil pengamatan bahwa kecenderungan bintang untuk berubah kearah
lebih merah. Singkatnya bintang-bintang bergerak menjauh dan semakin jauh tiap
saat. Bintang dan galaksi tidak hanya bergerak menjauhi kita, tetapi galaksi
bergerak menjauh satu sama lain.
Seperti yang telah
dijelaskan dalam Q.S. Al-Ambiya’,21:104 bahwa alam semesta ini awalnya
merupakan satu titik materi yang kemudian meledak dengan dentuman yang dasyat.
Setelah meledak pecahan materi ini terus mengembang dan menjauh dengan
kecepatan yang sangat tinggi. Hahya (2008:5) para ahli menyatakan bahwa ketika
masa jagat raya ini mencapai tingkat yang memadai, pengembangan ini akan
berakhir dan mengakibatkan alam semesta runtuh dengan sendirinya.
Berdasarkan pengamatan para ahli, alam
semesta mengembang dengan laju percepatan yang sangat mengherankan dan
menabjubkan setelah proses pembentukannya. Salah satu carauntuk mengerti konsep
pengembangan alam semester. Adalah dengan menggambar titik-titik sebagai
perumpamaan galaksi-galaksi di atas sebuah balon. Ketika balon tersebut ditiup
setiap titik kan bergerak saling menjauh.
Bila seseorang melihat alam semesta dari
sebuah galaksi, semua galaksi akan terlihat saling menjauh. Galaksi yang jauh
akan terlihat semakin mejauh satu sama lain lebih cepat dibandingkan dengan
galaksi yang lebih dekat. Itulah penjelasan hukum Hubble.
Beberapa ahli astronomi percaya bahwa
perluasan atau pengembangan alam semesta akan terus berlanjut, sedangkan
beberapa ahli yang lainnya meyakini suatu saat nanti alam semesta akan mulai
mengkerut. Dalam l-Qur’an Allah memaparkan
Artinya:
“Dan
langit itu Kami bangun dengan kekuatan dan Kamilah yang meluaskannya.”(Q.S
Adz-Dzariyat 51:47)
Proses hancurnya jagat raya ini di dalam
ilmu pengetahuan dikenal dengan big
crunch (keruntuhan total). Peristiwa ini yang menyebabkan tamaytnya riwayat
segala jenis kehidupan yang dikenal. Di dalam Al-Qur’an Surat Al-Ambiya’ ayat
104 dituliskan bahwa langit akan kembali digulung seperti menggulung
lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Allah SWT telah memulai penciptaannya
pertama, begitulah Allah SWT akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti
Allah SWT tepati.
Namun ada satu hal yang
masih menjadi pertanyaan. Seperti yang dijelaskan di dalam ayat di atas, bahwa
bumi dan langit akan kembali digulung seperti awal penciptaannya. Jika kita
menggap bahwa jagat raya ini berasal dari sebuah materi yang meledak, maka kita
tidak dapat membayangkan bahwa jagat raya ini berada pada satu bidang datar.
Pada hakikatnya jika sebuah materi terus mengembang dan bergerak saling menjauh
dan berada pada satu bidang datar, maka penggulungan jagar raya menjadi satu
yang padu kembali merupakan hal yang mustahil menurut pemikiran saat ini. Jadi
akan sangat mungkin jika alam semesta ini berbentuk melengkung, sehingga pada
satu titik akan saling bertabtakan dan menjadi satu materi kenbali.
Menurut teori big crunch alam semesta akan kembali menjadi seperti awal
penciptaanya dengan kerapatan yang sangat tinggi. Pada akhir alam semesta,
jagat raya ini akan semakin panas dan mengecil hingga ukuran yang takterhingga.
Teori ilmiah tersebut sejalan dengan penjelasan yang ada di dalam ayat
Al-Qur’an.
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ (١٠٤)
(Yaitu)
pada hari Kami menggulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas.
Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan
mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati;sesungguhnya Kamilah yang
akan melaksanakannya. (QS. 21:104)
C. Langit dan Bumi Tercipta dalam 6
Masa
Allah SWT dalam Al-Qur’an
tidak pernah mengatakan kalimat: ”kami ciptakan bumi dan langit” tapi Allah
mengucapkan “Kami ciptakan langit dan bumi”
Urutan penyebutan kata-kata
tersebut menunjukkan urutan penciptaan alam semesta. Kenyataannya memang langit
tercipta lebih dahulu, baru bumi tercipta yang merupakan bagian dari triliunan
planet yang tersebar di langit.
Dalam
ayat di bawah ini Allah menjelaskan tahap atau masa penciptaan langit dan bumi.
اللَّهُالَّذِيخَلَقَال سَّمَاوَاتِوَالْأَرْضَوَمَابَيْنَهُمَافِي سِتَّةِ أَيَّامٍثُمَّاسْتَوَىعَلَىالْعَرْشِ مَالَكُم مِّندُونِهِ مِنوَلِيٍّوَلَا شَفِيعٍأَفَلَاتَتَذَكَّرُونَ
|
Artinya:
Allahlah
yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya
dalam enam masa, kemudian Dia
bersemayam di atas Arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada -Nya seorang
penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
|
(QS.
32:4)
قُلْأَئِنَّكُمْلَتَكْفُرُونَبِالَّذِيخَلَقَالْأَرْضَفِييَوْمَيْنِوَتَجْعَلُونَلَهُأَندَادًاذَلِكَرَبُّ الْعَالَمِينَ
|
Katakanlah:
`Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam
dua masa dan kamu adakan
sekutu-sekutu bagi-Nya (Yang bersifat) demikian itulah Rabb
semesta alam`. (QS. 41:9)
|
Dengan menggabungkan
informasi dari dua ayat tersebut dan data sains tentang umur bumi, kita dapat memperkirakan
berapa umur langir dengan menggunakan matematika sederhana berikut.
Analogi:
Allah SWT menciptakan langit
dan bumi dalam enam masa (Q.S. As-sajdah:4) serta menciptakan bumi dalam dua
masa (Q.S. Fishilat:9). Berdasarkan umur meteorit tertua yang ditemuka di bumi,
para geologi menyatakan bahwa umur bumi adalah 4,56x109 tahun.
Perbandingan umur bumi dan langit adalah 2:6 = 1:3.
Umur langit = 3x 4,56x109 tahun=13,68x109 tahun.
Versi sains menyatakan
,menyatakan bahwa umur alam semesta sejak peristiwa big bang adalah 13,7x109
tahun. Terdapat perbedaan selisih 20 jut tahun antara perhitungan versi
al-qur’an dan sains, namun perbedaan ini dapat di toleransi dalam perhitungan
kosmologi. Ternyata firman-firmn Allah menjelaskan umur langit dan bumi dengan
cukup akurat..
D.
Daratan dan Lautan.
Allah SWT menyebut kata “daratan” al-barr di dalam
Al-Qur’an sebanyak6 kali. Dan
kata “lautan” al-bahr sebanyk 19 kali. Dengan perbandingan didapat
perbandingannya adalah 6:19 atau 1:3,16. Penyebutan tersebut menyebutkn
perbandingan kurang lebih 24%:76% antara luas daratan dan lautan di muka bumi
ini.
Dalam Al-Qur’an selalu disebut kata daratan terlebih
duhulu sebelum kata lautan. Seperti pada ayat ini
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (٥٩)
Dan
pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali
Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan
tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak
jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau
yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS.
6:59)
Urutan penyebutan daratan dan lautan menunjukan
bahwa daratan lebih dahulu diciptakan daripada lautan. Dan ternyata
perbabdingan jumlah penyebutan kata daratan dan lautan dalam al-qur’an hampir
sama dengan perbandingan luas daratan dan lautan menurut
E. Mencoba memahami dengan kosmologi
Untuk melakukan ini para ilmuwan
berpegang pada fakta-fakta dan sunnatullah yang telah mereka
temukan yang mengendalikan tingkah laku alam semesta,dan kemudian mulai
mereka-reka jawaban
itu sehingga mereka
dapat menerangkan gejala
yang teropservasi dan
dapat mengakomodasi hasil pengamatan di kemudian
hari.mereka mulai dari persamaan matematik yang
melukiskan ruang alam yang bergrafitasi karena materi yang ada di dalamnya.persamaan einstein yang distribusi materinya rata dan serba sama ke semua arah mempunyai bentuk yang sederhana.
melukiskan ruang alam yang bergrafitasi karena materi yang ada di dalamnya.persamaan einstein yang distribusi materinya rata dan serba sama ke semua arah mempunyai bentuk yang sederhana.
(dR/dt)2=(8
π /3)Kg pR2-kc2+(ᴧ /3)R2 (12.1)
Dalam
persamaan ini k adalah konstante gravitasi yang telah kita kemukakan dalam
paragraf 5.2,k parameter kelengkungan ruang
alam dan A konstante kosmologis,sedangkan R adalah jari-jari jagad raya.untuk
menerangkan terjadinya big bag yang keluar dari singularitas dan berekspansinya
alam semesta para fisikwan mengatakan bahwa dalam ketiadaan,tanpa ruang tanpa
materi ,terjadi suatu goncangan vakum selama saat yang sangt pendek
sesuai dengan sunntullah yang di temukan Heisenberg yaitu ΔEΔt
≈ h.
Besar energi
yang dapat muncul itu bergantung pada pendeknya waktu yang bersangkutan.
Apabila energi yang dapat muncul itu bergantung pada pendeknya waktu yang bersangkutan.apabila
energi itu besar sekali maka waktu itu sangat pendek sekali,terkandung dalam volume singularitas
fisis yang sangat pendek sekali,terkandung dalam volume singularitas fisis yang sangat kecil itu R≈ O sehingga dalam ruas kanan pers. (12.1) suku terakhir sangat kecil tetapi suku pertama sangat besar,karena kandungan enerssgy ρR3 konstan yang berarti ρ≈1/R3 ,sehingga suku kecil tetapi suku kedua tidak berarti.dengan demikian maka pres.(12.1) tereduksi menjadi
Apabila energi yang dapat muncul itu bergantung pada pendeknya waktu yang bersangkutan.apabila
energi itu besar sekali maka waktu itu sangat pendek sekali,terkandung dalam volume singularitas
fisis yang sangat pendek sekali,terkandung dalam volume singularitas fisis yang sangat kecil itu R≈ O sehingga dalam ruas kanan pers. (12.1) suku terakhir sangat kecil tetapi suku pertama sangat besar,karena kandungan enerssgy ρR3 konstan yang berarti ρ≈1/R3 ,sehingga suku kecil tetapi suku kedua tidak berarti.dengan demikian maka pres.(12.1) tereduksi menjadi
(dR/dt)2 = (8π/3)Kg /R
atau (dR/dt) =√ (β/R)
Dengan = (8π/3)kg. Kalau kita
kalikan pers. (12.2a) dengan dt dan √R, maka kita peroleh
√R dR =√β dt
F. Orbit/Edar
Tatkala merujuk pada matahari dan bulan di dalam Al-Qur`an, bahwa semua bergerak pada masing-masing garis orbit atau edar tertentu.
Tatkala merujuk pada matahari dan bulan di dalam Al-Qur`an, bahwa semua bergerak pada masing-masing garis orbit atau edar tertentu.
“Dan
Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan.
Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya”
(QS. Al-Anbiyaa [21] ayat 33)
Disebutkan pula
dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam tetapi bergerak pada garis
edar tertentu.
“Dan
matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha
Perkasa lagi Maha Mengetahui” (QS. Yaasiin [36] ayat
38)
Fakta-fakta yang disampaikan dalam
Al-Qur`an ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomi di zaman kita
sekarang. Menurut perhitungan para ahli astronomi bahwa Matahari bergerak
dengan kecepatan luarbiasa yang mencapai 720.000 Km/jam kearah bintang Vega
dalam sebuah garis edar yang disebut Solarafeks. Ini berarti Matahari
bergerak sejauh ± 17.280.000 Km/hari. Bersama Matahari, semua planet dan
satelit yang berada dalam sistem gravitasi Matahari juga berjalan menempuh
jarak ini. Selanjutnya semua bintang di alam semesta berada dalam satu gerakan
serupa yang terencana.
Keseluruhan alam semesta yang
dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti ini, dinyatakan dalam Al-Qur`an
sebagai berikut:
“Demi
langit yang mempunyai jalan-jalan[2],”
(QS. Adz-Dzaariyaat [51] ayat 7)
[2] Yang dimaksud adalah orbit bintang-bintang dan planet-planet.
Terdapat ± 200 milyar Galaxi di alam semesta ini, dan masing-masingnya terdiri hampir dari 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet dan sebagian besar planet-planet ini memiliki bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun masing-masing seolah berenangan sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lainnya. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama garis edar yang ditetapkan baginya.
[2] Yang dimaksud adalah orbit bintang-bintang dan planet-planet.
Terdapat ± 200 milyar Galaxi di alam semesta ini, dan masing-masingnya terdiri hampir dari 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet dan sebagian besar planet-planet ini memiliki bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun masing-masing seolah berenangan sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lainnya. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama garis edar yang ditetapkan baginya.
Garis edar di alam
semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaxi-galaxi pun
bergerak dengan kecepatan yang luarbiasa dalam satu garis edar yang terhitung
dengan penuh rencana dan teliti. Selama pergerakan ini, tak satupun benda
angkasa ini memotong lintasan yang lain atau bertabrakan dengan yang lainnya.
Bahkan telah teramati bahwa sejumlah Galaxi berpapasan satu dengan yang lainnya
tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan.
Dapat dipastikan
bahwa pada saat Al-Qur`an diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop masa kini
atau teknologi canggih untuk mengamati luar angkasa yang berjarak jutaan
kilometer. Tidak pula pengetahuan fisika maupun astronomi modern. Karenanya,
saat itu tidaklah mungkin mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa dipenuhi
oleh lintasan dan garis edar sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat tersebut
diatas. Akan tetapi hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita di dalam
Al-Qur`an yang diturunkan sejak saat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda Demi Kemajuan Admistrasi bersama