Minggu, 29 Juni 2014
PELATIHAN TOEFL MAHASISWAN PEND.FISIKA ANGKATAN 2011 UIN ALAUDDIN MAKASSAR
SAMATA, Pelatihan Toelf Mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika UIN ALAUDDIN MAKASSAR yang dilaksanakan selama 2 hari yaitu 26 - 27 juni 2014. Kegiatan pertama diadakan pree Test(test awal) sebelum di berikan pelatihan dan trik-trik menyelesaikan soal-soal Toefl. Selanjutnya diadakan pelatihan yang dibimbing langsung oleh KK.Isna dan Kk.Riskayadi yang merupakan alumni dari Amerika dan Belanda. Pelatihan ini berlangsung kondusif ditandai dengan Post Test setelah pelatihan.
"Kegiatan ini dilaksanakan oleh HMJ pendidikan Fisika yang di ikuti oleh seluruh mahasiswa semester VI yg bertujuan sbg tambahan skill di masa akan datang, dalam sambutan Muhammad Qadaffi (Kajur Pend.Fisika).
Test Toefl ini merupakan test yang wajib di ikuti oleh seluruh mahasiswa pendidikan fisika sebagai persyaratan Ujian Komprehensif yang minimum skor yang di dapat adalah 450 skor untuk mendapatkan surat keterangan Lulus Toefl dari Jurusan.
Jika mahasiswa tidak lulus test pertama, mahasiswa biasa mengikuti test selanjutnya sampai lulus yang akan diadakan setiap 2 bulan secara berkala.
(Red-Anas)
PETUNJUK PENULISAN JURNAL PENDIDIKAN FISIKA UIN ALAUDDIN MAKASSAR 2014
PETUNJUK
PENULISAN JURNAL PENDIDIKAN FISIKA
JUDUL SINGKAT,
BERSIFAT INFORMATIF (TNR BOLD 14)
Nama
Penulis, Tanpa Gelar (1), Penulis Lain Beda Alamat (2) (TNR
11 Bold)
(1) Alamat Lembaga Penulis, termasuk E-mail, sesuai
dengan angka superscript
(2)
Semua penulis dengan alamat sama, tanpa superscript(TNR 10)
Abstrak
(TNR 10 Bold)
Abstrak terdiri dari satu alenia
dan maksimal 150 kata, secara ringkas menguraikan, tujuan, metode, dan
hasil/kesimpulan utama. Margin kiri dan kanan 30 mm. Format petunjuk penulisan
ini sesuai dengan format baku Jurnal Pendidikan Fisika. ( TNR 10 Italic)
Kata kunci: maksimal 5 kata, tiap kata dipisahkan
tanda “,”(TNR 10 Italic)
1. Panduan Umum (TNR 12 Bold)
Jurnal Pendidikan Fisika menerima karya
keilmuan dalam bentuk artikel baik dari kalangan akademik, praktisi, maupun
profesi dengan pokok bahasan lingkup system dan teknologi Pendidikan seperti
diuraikan dalam visi dan missi. Karya ilmiah dapat berupa karangan asli hasil
penelitian atau telaah ilmiah (bukan hasil penelitian). Bahasa yang
dipergunakan adalah bahasa Indonesia baku untuk wacana keilmuan atau bahasa Inggris
(TNR 12).
2. Naskah
Naskah ditulis
menggunakan MS Word dengan huruf Time New
Roman (TNR) pada kertas ukuran A4 (hard copy 1 eks dan CDR), 1 spasi,
margin semua sisi 25 mm; 2 kolom dengan
jarak antara 0,5 cm; serta mengacu format pada petunjuk penulisan ini. Mengirimkan
naskah ke Redaksi Jurnal Pendidikan Fisika.
2.1. Isi Naskah
Naskah karya hasil
penelitian meliputi: Pendahuluan, (berisi
latar belakang masalah, maksud dan tujuan, tinjauan pustaka, serta manfaat
penelitian); Metode Penelitian; Hasil dan Pembahasan, (berisi hasil penelitian
dan pembahasan yang menunjukkan sikap penulis dan komparasi dengan hasil
penelitian sejenis lainnya); Kesimpulan,
(berisi hasil penelitian dengan jelas dan terukur); Pernyataan Terima Kasih ditujukan kepada pemberi dana
penelitian (kalau ada); dan Daftar Pustaka. Untuk naskah bukan hasil
penelitian, tanpa memakai metode penelitian.
2.1.1. Penulisan Daftar Pustaka
Terdiri dari Nama
dan huruf pertama nama keluarga penulis, tahun, judul tulisan; kemudian untuk Jurnal diikuti dengan nama jurnal
(dengan singkat yang umum dipakai), tahun, volume dan halaman; sedangkan
untuk Buku diikuti nama penerbit
dan nama kota. Contoh penulisan sebagai berikut:
· Shingley, JE.,
& C. R. Mischke, 1989, Mechanical
Engineering, 5” Edition, McGraw Hill Book Company, New York. (Buku)
· Kingsbury, A.,
1950, Development of the Kingsbury
Bearning, Mech Eng, Vol. 72, pp 957-962 (Jurnal)
· Raimondi, A.A.,
J.Body, H.N. Kaufman, 1968, Analysis and
Design of Sliding Bearning, Chapter 5, Standard Handbook of Luorication
Engineering, (Handbook)
· Rippel H.C.,
& D.D. Fuler, 1968, Advantages
Offered by Hydrostatic Beraning in Machine Tool Application, In ASME 1968
Design Engineering Conference, Chicago, II, April 22 – 25 (Makalah/Paper)
· Lutoni, T.L,
2004, Ektraksi Minyak CNSI dari Kulit Biji Mete, CTID Press Release, http://www.CTID.Org.minyak.htm (Situs Internet)
2.2. Kutipan, Tabel, dan Gambar
Bagian naskah
yang merupakan kutipan dari penulis tertentu, harus dibubuhkan tahun publikasi.
Tabel/grafik/gambar/foto tercetak (tidak boleh tempelan), diberi nomor menurut
urutan dalam naskah; keterangan harus jelas dan ditempatkan di bawah
grafik/gambar/foto, sedangkan untuk tabel ditempatkan di atas.
3. Penutup
Naskah yang
diterima redaksi diseleksi dalam 2 tahap, administrasi dan substansi; dengan
hasil berupa: ditolak, diterima dengan perubahan, diterima dengan tanpa perubahan.
Naskah yang telah dimuat di Jurnal Pendidikan Fisika tidak diperkenankan
diterbitkan dalam jurnal/majalah lain. Redaksi tidak bertanggungjawab bila
terjadi pelanggaran hak cipta atas
naskah yang diterbitkan
Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual didasarkan pada hasil penelitian John Dewey (1916) yang menyimpulkan bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang dipelajari terkait dengan apa yang telah diketahui dan dengan kegiatan atau peristiwa yang terjadi disekelilingnya.
Pengajaran kontekstual sendiri pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat yang diawali dengan dibentuknya Washington State Consortum for Contextualoleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat. Antara tahun 1997 sampai tahun 2001 sudah diselenggarakan tujuh proyek besar yang bertujuan untuk mengembangkan, menguji, serta melihat efektifitas penyelenggaraan pengajaran matematika secara kontekstual. Proyek tersebut melibatkan 11 perguruan tinggi, dan 18 sekolah dengan mengikutsertakan 85 orang guru dan profesor serta 75 orang guru yang sudah diberikan pembekalan sebelumnya.
Penyelenggaraan program ini berhasil dengan sangat baik untuk level perguruan tinggi sehingga hasilnya direkomendasikan untuk segera disebarluaskan pelaksanaannya. Untuk tingkat sekolah, pelaksanaan dari program ini memperlihatkan suatu hasil yang signifikan, yakni meningkatkan ketertarikan siswa untuk belajar, dan meningkatkan partisipasi aktif siswa secara keseluruhan.
Pembelajaran kontekstual berbeda dengan pembelajaran konvensional, Departemen Pendidikan Nasional (2002:5) mengemukakan perbedaan antara pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) dengan pembelajaran konvensional sebagai berikut:
| CTL | Konvensional |
| Pemilihan informasi kebutuhan individu siswa; | Pemilihan informasi ditentukan oleh guru; |
| Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang (disiplin); | Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu; |
| Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki siswa; | Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai pada saatnya diperlukan; |
| Menerapkan penilaian autentik melalui melalui penerapan praktis dalam pemecahan masalah; | Penilaian hasil belajar hanya melalui kegiatan akademik berupa ujian/ulang |
Karakteristik Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama dari pembelajaran produktif yaitu : konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modelling), refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdiknas, 2003:5).
1. Konstruktivisme (Constructivism)
Setiap individu dapat membuat struktur kognitif atau mental berdasarkan pengalaman mereka maka setiap individu dapat membentuk konsep atau ide baru, ini dikatakan sebagai konstruktivisme (Ateec, 2000). Fungsi guru disini membantu membentuk konsep tersebut melalui metode penemuan (self-discovery), inquiri dan lain sebagainya, siswa berpartisipasi secara aktif dalam membentuk ide baru.
Menurut Piaget pendekatan konstruktivisme mengandung empat kegiatan inti, yaitu :
1) Mengandung pengalaman nyata (Experience);
2) Adanya interaksi sosial (Social interaction);
3) Terbentuknya kepekaan terhadap lingkungan (Sense making);
4) Lebih memperhatikan pengetahuan awal (Prior Knowledge).
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil atau diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Berdasarkan pada pernyataan tersebut, pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan (Depdiknas, 2003:6).
Sejalan dengan pemikiran Piaget mengenai kontruksi pengetahuan dalam otak. Manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing-masing berisi informasi bermakna yang berbeda-beda. Setiap kotak itu akan diisi oleh pengalaman yang dimaknai berbeda-beda oleh setiap individu. Setiap pengalaman baru akan dihubungkan dengan kotak yang sudah berisi pengalaman lama sehingga dapat dikembangkan. Struktur pengetahuan dalam otak manusia dikembangkan melalui dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi.
2. Bertanya (Questioning)
Bertanya merupakan strategi utama dalam pembelajaran kontekstual. Kegiatan bertanya digunakan oleh guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa sedangkan bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :
1) Menggali informasi, baik administratif maupun akademis;
2) Mengecek pengetahuan awal siswa dan pemahaman siswa;
3) Membangkitkan respon kepada siswa;
4) Mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa;
5) Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru;
6) Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa;
7) Menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
3. Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri (Depdiknas, 2003). Menemukan atau inkuiri dapat diartikan juga sebagai proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu :
1) Merumuskan masalah ;
2) Mengajukan hipotesis;
3) Mengumpulkan data;
4) Menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan;
5) Membuat kesimpulan.
Melalui proses berpikir yang sistematis, diharapkan siswa memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis untuk pembentukan kreativitas siswa.
4. Masyarakat belajar (Learning Community)
Konsep Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar itu diperoleh dari sharing antarsiswa, antarkelompok, dan antar yang sudah tahu dengan yang belum tahu tentang suatu materi. Setiap elemen masyarakat dapat juga berperan disini dengan berbagi pengalaman (Depdiknas, 2003).
5. Pemodelan (Modeling)
Pemodelan dalam pembelajaran kontekstual merupakan sebuah keterampilan atau pengetahuan tertentu dan menggunakan model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuau. Dalam arti guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukanlah satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.
Menurut Bandura dan Walters, tingkah laku siswa baru dikuasai atau dipelajari mula-mula dengan mengamati dan meniru suatu model. Model yang dapat diamati atau ditiru siswa digolongkan menjadi :
- Kehidupan yang nyata (real life), misalnya orang tua, guru, atau orang lain.;
- Simbolik (symbolic), model yang dipresentasikan secara lisan, tertulis atau dalam bentuk gambar ;
- Representasi (representation), model yang dipresentasikan dengan menggunakan alat-alat audiovisual, misalnya televisi dan radio.
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru. Struktur pengetahun yang baru ini merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahun yang baru diterima (Depdiknas, 2003).
Pada kegiatan pembelajaran, refleksi dilakukan oleh seorang guru pada akhir pembelajaran. Guru menyisakan waktu sejenak agar siswa dapat melakukan refleksi yang realisasinya dapat berupa :
- Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperoleh pada pembelajaran yang baru saja dilakukan.;
- Catatan atau jurnal di buku siswa;
- Kesan dan saran mengenai pembelajaran yang telah dilakukan.
7. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assessment)
Penilaian autentik merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa agar guru dapat memastikan apakah siswa telah mengalami proses belajar yang benar. Penilaian autentik menekankan pada proses pembelajaran sehingga data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Karakteristik authentic assessment menurut Depdiknas (2003) di antaranya: dilaksanakan selama dan sesudah proses belajar berlangsung, bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, yang diukur keterampilan dan sikap dalam belajar bukan mengingat fakta, berkesinambungan, terintegrasi, dan dapat digunakan sebagai feedback. Authentic assessment biasanya berupa kegiatan yang dilaporkan, PR, kuis, karya siswa, prestasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis dan karya tulis.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Nurhadi. 2003. Pendekatan Kontekstual. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.
Kamis, 19 Juni 2014
Pendidikan Fisika UIN Alauddin Makassar Terakreditasi B Juni 2014
Rabu, 18 Juni 2014
Workshop Evaluasi kurikulum Pendidika Fisika UIN Alauddin Makassar 2014
Samata, Pendidikan Fisika mengadakan Worshop evaluasi kurikulum pendidikan fisika fakultas
tarbiyah dan keguruan universitas islam negeri alauddin Makassar yang di
laksanakan di samata 19 Juni 2014. Worshop ini buka langsung oleh Dekan fakultas
tarbiyah dan keguruan Dr. salehuddin, M,
Ag . dalam sambutannya mengapresiasi atas terlaksananya worshop ini guna
menyonsong peningkatan kualitas kepribadian mahasiswa pendidikan fisika serta menargetkan
akreditasi A pada penilaian 5 tahun kedepan.
Worshop kurikulum pendidikan fisika sangat antusias para mahasiswa fisika, itu di tandai di ikuti
oleh para mahasiswa, alumni, citivitas akademik prodi dan para dosen dalam lingkup fisika UIN
alauddin Makassar. Kegiatan ini di lakukan
untuk meyamakan kurikulum Se-UIN seluruh Indonesia pada periode 2015 ke depan. Untuk menggapai
hal itu, pihak pelaksana menghadirkan
pakar kurikulum Fisika yaitu Prof. Dr. H. Muris, M.Si. (Ketua Prodi
PPs Fisika) dan Dr. Muh. Tawil, M. Si,
M.Pd.
Worshop ini bertujuan untuk menyusun kurikulum pendidikan
fisika periode 2015 untuk menunjang dan terkorelasi dengan lapangan kerja yaitu
tidak hanya melahirkan pendidik professional yang berakhlak mulia juga menyiapkan tenaga
yang siap bersaing di bidang lapangan kerja yang lain.
Selasa, 10 Juni 2014
JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA PRAKTIKUM ASTRONOMI DI PULAU CENGKEH
Jurusan Pendidikan Fisika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Ikuti Praktik Lapangan Astronomi. Kegiatan berlangsung di pulau Cangke, Pangkep. Ada tiga kelas yang mengikuti kegiatan ini, yakni mahasiswa tingkat VI pada Fisika A, Fisika B dan Fisika C. Samata, Jumat (30/05).
Praktik lapangan Astronomi adalah praktik mata kuliah “Astromi”, kegiatan ini bertujuan untuk menagamati titik terbit bintang sampai tenggelamnya. Ketua Panitia, Ambo tang mengatakan Pulau Cangke jadi pilihan praktik karna posisinya yang strategis.
“Disini adalah tempat yang sangat strategis, kami bisa melihat pergerakan bintang secara jelas,” terang pria berambut ikal ini.
Ria Sari Kasman selaku praktikan mengaku senang mengikuti praktik ini, menurutnya kegiatan ini sangat baik untuk memperdalam teori. “Banyak alat yang kami gunakan disini, bekal ini kami dapat dari bangku kuliah. Hari ini, teori yang kami cocokan di dengan realitas di lapangan,” tambahnya.
Langganan:
Komentar (Atom)





